Rabu, 26 September 2012

DATA SEJARAH KABUPATEN PEMALANG

Setiap tanggal 24 Januari selalu diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Pemalang. Pada tanggal 24 Januari pada tahun 1575 dianggap sebagai lahirnya Pemalang sebagai daerah pemerintahan setingkat kabupaten. Namun keberadaan suatu daerah tidaklah berdiri secara tiba-tiba, namun jauh sebelumnya tentu saja sudah ada kehidupan masyarakat yang membentuk kebudayaan di daerah tersebut. A. LEGENDA KABUPATEN PEMALANG Legenda merupakan ceritra prosa rakyat yang dianggap oleh empunya cerita sebagai suatu yang benar-benar terjadi. Legenda yang berkembang di daerah Pemalang merupakan legenda setempat dimana berhubungan dengan nama Pemalang sendiri dan beberapa wilayah di wilayah Pemalang. Terdapat beberapa legenda yang menunjukkan asal usul Pemalang, antara lain: a. Berdasar Watak (Kepribadian) Orang Pemalang Masyarakat Pemalang memiliki semboyan “Banteng Wareng ing Payudan tan Sinayudan – Rawe-rawe rantas Malang-malang Putung”. yang memiliki arti bahwa rakyat Pemalang jika sudah dilukai atau dijajah berani berjuang. Biarpun rakyat kecil, namun bila berada di arena peperangan tidak bisa dicegah. Dalam melawan musuh sambil sinonderan sampai berselendang usus tak akan menyerah. b. Nama Penguasa Di Pemalang pernah terdapat penguasa yang bernama Raden Sambungyudo. Beliau adalah keturunan dari Komandan perang dari Kerajaan Majapahit pada saat Perang Bubat yang bernama Ki Bondan Lamatan. Tokoh Ki Bondan Lamatan ini berguru kepada sesepuh Agama Pemalang yang bernama Ki Buyut Banjaransari. Ki Bondan lamatan ini tidak kembali ke majapahit namun menetap di pemalang hingga memiliki seorang anak yang bernama Joko Malang. Joko Malang inilah yang nantinya bernama Raden Sambungyudo yang menjadi pimpinan daerah Pemalang. Maka nama Pemalang berasal dari tempatnya Joko Malang. c. Berasal dari nama Kali Malang Di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang terdapat sungai yang bernama Kali Malang. Di sungai ini pulalah terdapat muara dari Sungai Comal. Bahwa di desa sebelah barat Sungai Comal membujur dari Desa Kendaldoyong ke Desa Asemdoyong terdapat bekas alur yang menunjukkan adanya bekas aliran sungai dari timur ke barat dan membingungkan orang yang akan berbuat jahat. Karena sungai tersebut mengalir dari timur ke barat atau malang maka daerah tersebut dinamakan “pemalang”. Kisah sungai Malang ini berkaitan pada waktu Patih Talabuddin utusan dari Panembahan Yusup yang akan mengambil keris Kyai Tapak. Setelah mencuri keris, Patih Talabuddin melewati sungai Malang dan akhirnya keder atau bingung. Akhirnya niat buruk untuk membawa Keris Kyai Tapak tersebut urung dan diserahkan lagi ke Kadipaten Pemalang. Namun perkembangan selanjutnya, sungai tersebut pada masa kolonial dibuat lurus karena lumpur yang dibawa sungai bisa mencapai 5 (lima) meter, sehingga merubah bentuk aliran sungai. d. Berasal dari kata “Pra” dan “Malang” Konon diceritakan bahwa Daerah Tegal dan Pemalang selalu berselisih paham secara tradisi. Dan Pemalang merupakan bukti sebagai batas atau penghalang di tengah-tengah antara Tegal dan Pekalongan. Maka Pemalang berasal dari kata “pra” yang berarti permulaan / yang pertama dan “malang” yang berarti penghalang atau mencegah. Di sini peran masyarakat sebagai pemalang atau penghalang masyarakat yang saling bersengketa. B. MASA KLASIK Pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram Hindu, nama Rakai Panaraban dipercaya masyarakat Pemalang sebagai penguasa di Panaraban Warung Asem Pekalongan. Sebagai buktinya terdapat beberapa nama tempat yang berawalan “Ci”, seperti Cikadu, Cikendung, Cibuyur, Cibelok, Cibuluk, Ciawet, Ciomal (Comal), Cilincing dan masih banyak lagi. Sedangkan pusat keagamaan berada di Gunung Mendelem. Di Pemalang tidak terdapat candi karena Bukit Mendelem dengan ketinggian yang sama dengan Gunung Slamet telah mewakili sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Selain itu, di Pemalang juga tidak terdapat batu andesit, malainkan batu granit, sehingga diperkirakan sulit untuk membentuk sebuah candi karena sifat batu yang sangat keras namun mudah patah. Di bukit mendelem ditemukan beberapa temuan patung. Sejarah Pemalang dapat dikaitkan dengan Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 di Jawa Tengah dimana wilayah intinya diperkirakan dari daerah Kedu memanjang sampai wilayah Dieng. Walaupun belum dikenal nama Pemalang, namun daerah ini karena berada di bawah dataran tinggi Dieng, maka daerah Pemalang boleh dibayangkan sebagai pintu gerbang Mataram Kuno. Sayang daerah tersebut belum sempat berkembang karena perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Sehingga keberadaan daerah Pemalang seperti daerah tak bertuan. Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, tepatnya pada tahun 1357 - 1358 M, daerah Pemalang pernah dimanfaatkan oleh Patih Gajah Mada sebagai pangkalan perang ke Sriwijaya. Dukungan orang Pemalang di bawah pimpinan Ki Buyut Jiwandono atau Ki Buyut Banjaransari yang membuahkan hasil gemilang. Oleh karena itu sedikitnya 17 nama daerah di Pemalang dijadikan daerah perdikan, yaitu suatu wilayah yang tidak dipungut pajak karena dianggap berjasa. Daerah Pemalang mulai tampak dan berkembang pada akhir tahun 1350 M, dimana kekuasaan Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan di bawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada. Dengan adanya Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajah Mada yang bertekat untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit. Pengaruh Kerajaan Majapahit kala itu sampai ke Pulau Madagaskar di dekat Benua Afrika. Peran Pemalang dalam penakhlukan daerah oleh kerajaan majapahit adalah pada saat penakhlukan Pajajaran daerah Pasundan. Pada tahun 1348 Masehi terjadilah Perang Bubat. Dimana terjadi peperangan antara prajurit Majapahit dengan rombongan pengantin yang membawa Diah Pitaloka dari Kerajaan Pajajaran. Pinangan Hayam Wuruk terhadap Diah Pitaloka adalah siasat agar Pajajaran jatuh ke bawah panji-panji Majapahit. daerah Bubat tidak dijelaskan secara detail. Namun di daerah Pemalang terdapat nama Babadan. Di Pemalang berkembang cerita bahwa terdapat komandan perang yang bernama Bondan Lamatan tidak pulang ke Majapahit dan menetap di Pemalang karena berguru dengan Ki Buyut Banjaransari. Tokoh Bondan Lamatan ini nantinya memiliki keturunan yang bernama Joko Malang atau Raden Sambungyudo. C. MASA ISLAM a. Awal berkembangnya Agama Islam Pada tahun 1500 sampai dengan 1586 M (abad XVI), Pemalang perhatian dari para wali. setidaknya beberapa nama tokoh Islam yang berdakwah di pemalang antara lain Shech Jambu Karang, Kyai Natas Angin, Kyai Geseng, Ki Bantar Bolang, Kyai Palintaran, Sech Pandanjati dan lain lain. Adapun titik-titik penyebaran Agama Islam berpusat di daerah Watu Kumpul, Ulujami dan Bantar Bolang. b. Masa Kerajaan Pajang Pada masa Kekuasaan Kerajaan Pajang yang berada di bawah tampuk kepemimpinan Sultan Hadiwijaya, muncul istilah “Pemalang Komplang”. Pada saat itu jabatan Adipati di Pemalang dipegang oleh putra dari Ki Gede Sambung Yudo yang bernama Adipati Anom Windu Galbo dan patih bernama Ki Gede Murti. Setelah Ki Gede Murti wafat, maka jabatan patih digantikan oleh putranya yang bernama Patih Jiwo Negoro. Kekosongan kekuasaan terjadi pada saat Adipati Anom Windu Galbo mangkat. Kekosongan Kadipaten Pemalang pada abad ke XVI sementara jabatan Adipati dirangkap oleh Patih Jiwo Negoro. Sultan Hadiwijaya menerima laporan dari Kadipaten Pemalang bahwa Pemalang tidak ada penguasanga, atau istilah orang Pemalang adalah “Pemalang Komplang”. Oleh karena itu Sultan Hadiwijaya segera memerintahkan putranya yang bernama Pangeran Benowo untuk menjabat di kabupaten Pemalang. Keberadaan Kadipaten Pemalang dipandang Sultan Hadiwijaya merupakan daerah yang gawat. Pemalang, konon ceritanya sebagai “Kutha Pemalang” atau penghalang semua orang yang akan berbuat jahat. Maka Sultan Hadiwijaya memberikan syarat kepada Pangeran Benowo bahwa sebelum menjabat sebagai Adipati di Kadipaten Pemalang, Pangeran Benowo harus pergi ke Banten untuk menemui Sultan Banten yang bernama Panembahan Yusuf untuk meminta ‘Keris Kyai Tapak’. keris tersebut dipercaya akan menimbulkan sifat kendel atau berani menghadapi segala situasi. Selain itu Pangeran Benowo dibekali Pusaka Keris Kyai Setan Kober yang merupakan pusaka rampasan dari Jipang atau Arya Penangsang. Guna melegitimasi kekuasaannya di Kadipaten Pemalang, Pangeran Benowo di bekali Serat Kekancing menjabat di Kadipaten pemalang dan Surat ke Panembahan Yusuf agar meminjamkan Keris yang dahulu dibawa Fatahillah dari Kerajaan Demak. (Panembahan Yusuf adalah cucu dari Fatahillah yang pernah menjabat sebagai panglima perang Kerajaan Demak) . Kedatangan Pangeran Benowo di Kadipaten Pemalang disambut dengan gembira. Layang Kekancing dari Sultan Hadiwijaya langsung diumumkan oleh Patih Jiwo Negoro ke seluruh Punggawa Praja dan segenap lapisan masyarakat. Jumenengan atau pengesahan atas dasar Layang Kekancing dari Sultan Hadiwijaya tersebut menyebutkan bahwa Pangeran Benowo putra Pajang diangkat sebagai penguasa Kadipaten Pemalang yang membawahi Pemalang, Tegal dan Brebes pada hari Jumat Pon, 24 Januari 1575 Masehi atau 2 Syawal 1496 (Je) atau tahun 982 Hijriyah. Jumenengan dilakukan pada bulan Syawal dengan maksud pada saat serah terima jabatan dari Patih Jiwo Negoro ke Pangeran Benowo sekaligus bisa diadakan silaturahmi atau halal bihalal antara penguasa kadipaten dan bawahannya. hari itu bertepatan dengan musim hujan, pertanda wilayah Pemalang subur makmur loh jinawi, gemah ripah karto toto raharjo. Kisah Patih Jiwo Negoro atau yang dikenal sebagai “Patih Sampun” sangat melegenda di kalangan masyarakat Pemalang. Beliau merupakan putra asli Pemalang yang terkenal kesaktiannya. Sang patih terkenal dengan kata “sampun dados Sang Adipati”. Apapun yang diperintah Adipati Benowo selalu siap seperti yang dikehendaki Sang Adipati. Pada saat diadakan jumenengan, pangeran Benowo heran karena tidak ada pertunjukan, maka dengan spontan saat itu juga mendatangkan penari Gamyong yang bernama Nyi Sarinten lengkap dengan gamelan dan nayogo. Kehebatan Patih Sampun juga dapat di dijumpai sampai saat ini dengan dibangunnya jalan dan tak kurang dari 17 jembatan di Pemalang. Atas jasa-jasa Sang patih, Pangeran Benowo memberi isuda dengan nama Patih Sampun Jiwo Negoro. Hubungan Pemalang dan Banten dalam kisah selanjutnya menjadi renggang. Hal ini dikarenakan Portugis mulai mendarat di Banten. Kerajaan Banten mengalami kekacauan. Apalagi Ratu Kalinyamat juga mengadakan penyerangan ke banten. Kemudian Panembahan Yusuf mengutus Patih Talabudin untuk meminta kembali keris Kyai Tapak. Berkat kesaktian Patih Sampun, Patih Talabudin yang telah membawa Keris Kyai Tapak menjadi bingung di Kali Malang. maka akhirnya Patih talabudin menyerah dan mengabdi di Pemalang sebagai penyebar Agama Islam dan mengatur perekonomian hingga meninggal dan dimakamkan di Pedurungan, Taman, Pemalang. c. Masa Kerajaan Mataram Islam Pada 1582 M dikisahkan bahwa Sultan Adiwijaya (Hadiwijaya) jatuh sakit ketika bermaksud menyerbu mataram hingga akhirnya mangkat. Maka terjadi ketegangan perebutan kekuasaan. Pangeran Benowo merupakan putra sulung, namun ia lahir dari istri selir. Sedangkan dari perkawinannya dengan putri Sultan Trenggono terdapat putri yang menikah dengan Adipati Demak. Atas usul Sunan Kudus, Pajang diserahkan kepada Adipati Demak. Pangeran Benowo merasa tidak adil, sehingga dia meminta bantuan Ngabei Loring Pasar dengan merelakan haknya atas Pajang kepada Ngabei Loring Pasar. Keberhasilannya mengalahkan Adipati Demak, maka kekuasaan Pajang jatuh dan Kerajaan pindah ke Mataram dengan rajanya Ngabei Loring Pasar yang bergelar Senopati Ing Alaga Sayidin panata Gama pada tahun 1586 M Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Mataram mempunyai cita-cita untuk menjadikan wilayah Pulau Jawa sebagai daerah di bawah panji-panji Kerajaan Mataram. Untuk dapat mencapai cita-cita tersebut maka Sultan Agung harus dpat mengusir VOC dari wilayah Batavia. Maka pada tahun 1628 M, ia mengirimkan pasukannya untuk menyerang Batavia, namun serangan ini gagal karena pasokan logistik dan perlengkapan yang kurang. Serangan kedua kembali dilakukan pada tahun 1629 M dengan mempersiapkan pasukan perangnya dan mendirikan lumbung-lumbung padi di sepanjang jalan yang dilalui oleh pasukan Mataram. Salah satu lumbung padi tersebut didirikan di daeah Tegal. Dan peran Pemalang pada saat itu adalah sebagai terminal kecil pasokan logistik yang ada di Tegal. Namun sayangnya pendirian lumbung-lumbung padi tersebut diketahui oleh VOC dan berakhir dengan kekalahan karena lumbung-lumbung padi tersebut dibakar oleh pasukan VOC. Pemalang sudah tercakup pada nama sandi jangka jayabaya JA-LA-DU-LANG-MAS (Jogja – Sala – Kedu – Pemalang – Banyumas). Ada yang menyebutkan bahwa kata “JALA” bukan menyebutkan Jogja dan Sala melainkan diartikan segitiga. Pemalang adalah salah satu dari daerah Mancanegara. Ketiga daerah tersebut membentuk segitiga yang selalu penting dalam memegang percaturan perjalanan sejarah D. MASA KOLONIAL Keadaan geografis Kabupaten pemalang sangat subur. Dalam sejarah disebutkan bahwa dalam laporan Tuan Dr. De Hean tahun 1622-1623 dengan mengambil jurusan Tegal, Pemalang, Wiradesa dan Pekalongan. Dilaporkan bahwa Pemalang dan Wiradesa penuh dengan persawahan yang subur. Juga disebutkan dalam laporan Tuan Pieter Franssen saat perjalanan pada tahun 1630 bahwa di Pemalang terdapat banyak sawah. Pada tahun 1745 H, Kerajaan Mataram pindah ke daerah Sala. Konsep keraton masih menggunakan lingkaran-lingkaran konsentris dimana keraton sebagai pusatnya. Peran Pemalang adalah sebagai Monconegoro Kilen (Bang Kilen) selain Banyumas, Banjarnegara, Cilacap dan Karesidenan Bagelen. namun setelah tahun 1830, seluruh wilayah Monconegoro merupakan wilayah Belanda. Bukti nyata tentang kesuburan bumi Pemalang, dibuktikan dengan banyaknya pabrik gula yang didirikan, seperti Pabrik Gula Sumberharjo, Pabrik Gula Banjardawa yang telah dibumihanguskan pada masa revolusi 1945, Pabrik Gula Petarukan yang telah dibumihanguskan pula pada masa revolusi, Pabrik Gula Comal Baru yang merupakan pabrik gula terbesar di Indonesia di samping Pabrik Gula Jatiroto di Jawa Timur, Pabrik Gula Comal Lama dan Pabrik Gula Sragi. Keberadaan pabrik gula tersebut didukung adanya beberapa sungai yang tergolong berukuran besar di Pemalang. sungai-sungai tersebut sampai sekarang dapat dilayari sampai jauh ke pedalaman, seperti Sungai Sragi, Sungai Waluh dan Sungai Comal. Hal ini terbukti dengan penemuan sebuah jangkar besi yang ditemukan pada tahun 1967 di bawah jembatan Ujung Gedhe. Pada jangkar tersebut terdapat tulisan 1848 yang diasumsikan adalah angka tahun pembuatan. Di Desa Sungapan dibuatlah bendungan di atas Sungai Waluh dan airnya disalurkan ke beberapa sungai. Guna kepentingan Politik Cultuur Stelsel bendungan tersebut dibangun untuk kepentingan pengambilan dan distribusi gula dari Pabrik Gula. http://nguriurijawa.blogspot.com/2012/01/raden-maoneng-bojongbata-pemalang.html --> tentang maoneng

Tidak ada komentar: